Langsung ke konten utama

Postingan

Mental Komparatif

Seorang mahasiswa tengah semester sebut saja Bedul, mengeluhkan tentang kondisinya saat ini. Ia curhat kepada kawan dekatnya, Sam. "Sam, gua lagi galau nih." "Kenapa, Dul?" "Kemarin kan abis maen di kampusnya temen. Gila, Sam! Keren banget. Beda lah sama kampus kita." "Oya? Perasaan udah bagus deh kampus kita." "Bagus apanya. Jauhh, Sam jauh. Kampus dia itu ya. Perpustakaannya gedhee banget. Fasilitasnya lengkap. Ada Lapangan Futsalnya, kolam renang, GOR. Mahasiswa nya juga kece-kece. Keliatan pinter-pinter dan borju. Gua jadi nyesel, deh kuliah di sini." "........" --------------------------------------------------------- Tidak dapat dipungkiri. Kita sering melakukan hal yang serupa. Suka membanding-bandingkan. Kalau pun tidak di lisan yaa di dalam hati. Melihat temannya berprestasi, timbul sangsi diri 'kok aku beda ya sama dia', 'kok aku lebih payah ya dari dia'.Melihat temannya banyak teman, timbul...

Jogja Air Show 2018 : Lets Fly Higher

Sinopsis Jika berhitung tentang resiko ketidakpastian, 'melayang' di udara adalah yang paling besar bahayanya. Seperti pagi itu, angin berhembus lebih kencang sedikit saja, skydiving yang rencananya akan menghiasi langit Depok Airstrip tidak jadi terjun alias dibatalkan. Penonton tentu kecewa, tapi yang namanya keselamatan tetap menjadi prioritas nomor satu. Bisa bisa nanti para skydiver-nya mendarat di laut kan nggak lucu. Apalagi waktu itu ombak Pantai Selatan sedang besar-besarnya. Bandingkan jika naik bis atau kendaraan darat lainnya. Mau itu angin kencang, hujan badai, gerimis manja, tetap saja jalan. Ini adalah pengalaman pertama saya lihat Air Show. Sebenernya sama sekali nggak ada rencana, tapi gara-gara beberapa ketidaksengajaan membuat saya ditakdirkan berjodoh ikut acara ini (eh?). Awalnya (cuman) ingin pulang sebentar, tiba-tiba ada Budhe yang jauh-jauh datang dari Bandung hanya untuk lihat acara itu, terketuklah hati keponakan yang baik ini untuk menemani (baca :...

Menakar Idealisme

"Mahasiswa harus bisa menjaga independensinya! Jangan sampai ditunggangi oleh kepentingan politik atau apapun!" Begitu kata salah satu presenter kondang yang kali ini telah bermanuver ke tivi sebelah. Akhir-akhir ini ramai sekali di media gonjang ganjing tentang sesuatu yang agak menggelitik. Kartu berwarna warni atau apalah itu  namanya. Hebat memang. Selamat datang di negeri yang sukanya meributkan hal-hal kecil seperti itu. Bukan ingin mencari pembenaran atau mengkambinghitamkan kesalahan. Yakin saja pro kontra terkait hal ini tidak akan pernai usai. Dari berbagai perbedaan perspektif & sudut pandang. Mana yang lebih benar? Semuanya benar. Karena pasti masing-masing punya alasan berdasar. Masalahnya adalah, popularitas selalu menjadi makanan yang seperti tidak pernah ada habisnya dibahas. Tidak salah sih, namun terlalu banyaknya pembahasan ke arah sana justru membuat kita melupakan substansinya. Mahasiswa harus bergerak! Terlepas dari bagaimana metode & teknis...

Mari 'Membenci' Guru

Orang-orang selalu berpikiran aneh. Bagaimana mungkin memuja seseorang yang tidak memiliki apa-apa? Keteneran tidak , harta pun tidak banyak, populer juga apalagi . Guru sama saja dengan profesi lainnya. Tapi kenapa hanya dia yang diagungkan di mana-mana. Kenapa tidak ada lagu tentang tukang becak? Pemulung? Tukang sampah? Padahal jika dipikir-pikir pekerjaan mereka lebih susah daripada hanya sekedar berbicara di depan orang banyak. Masalah jasa? Jangan salah, profesi-profesi lainnya juga tidak kalah berjasanya. Hanya berbeda bidang. Guru di pendidikan, tukang sampah di lingkungan. Apa hebatnya profesi mereka dibandingkan dengan yang lainnya? Bukankah sama saja. Mereka bekerja untuk mendapatkan uang, penghidupan bagi keluarganya, gaji guna memenuhi kebutuhan. Zaman sekarang mana ada guru yang tidak mau dibayar. Tidak mungkin kenyang dengan embel-embel 'pahlawan tanpa tanda jasa, bukan? Mungkin ada guru yang seperti itu. Namun hanya sedikit sekali. 1 banding 1000. Lagipula pe...

(Mengaku Sibuk)

'Orang sibuk tidak akan pernah mengaku dia sibuk'. Begitu yang pernah saya dengar dari seseorang. Sebagian orang menghindari kesibukan, karena dia sedang merencanakan kesibukan lain yang menurutnya jauh lebih penting. Sebagian lainnya memilih tidak mengambil kesibukan apapun. Karena menurutnya diam adalah 'kesibukan'nya yang penting. Dengan berbagai macam perspektif berbeda, kesibukan tentu jadi bahasan yang menarik. "Wihh..keren ya kamu. Sibuk banget. Berangkat pagi pulang malam.." "Ngapain sih capek-capek. Nggak dibayar juga.." Memilih kesibukan sama dengan memanggul bara api, penuh dengan resiko & konsekuensi yang harus siap ditanggung kapanpun. Bagi saya pribadi, tidak melakukan apa-apa berdampak pada kemalasan, keengganan beranjak, dan ketidakdisiplinan. Walau sudah cukup disibukkan dengan tugas kuliah, laporan, dan sebagainya. Tetap butuh satu hal yang membuat kita terus bergerak. Ibarat air. Ketika dia menggenang, maka akan jadi sarang ...

Mengilmui Tanaman

Ilmu manusia diibaratkan setetes air di antara Ilmu Allah yang bagaikan lautan luas. Maka sungguh betapa tidak sebandingnya dan tidak ada apa-apanya kita di hadapan Rabb Yang Maha Kuasa. Itupun jika sudah dipergunakan secara maksimal sesuai batasan kita. Nah, jika masih saja bermalas-malasan, tidak mau belajar, jarang membaca, maka bisa jadi tidak sampai satu tetes. Entah itu seperempat? Sepersepuluh? Seperseribu? Atau malah saking sedikitnya sama sekali tidak bisa dilihat mata lagi. Ilmu itu terserak di mana-mana. Dan apapun itu pasti datangnya dari Allah. Mau ilmu alam,  matematika, fisika, kimia, biologi, dan banyak lainnya. Sesungguhnya manusia tidak serta merta menemukan, tapi Dia lah yang memberi ilham serta hidayah. Sungguh naif rasanya jika manusia sombong atas ilmu yang ia miliki. Bukankah tidak ada yang kuasa mengilmui segalanya? Bill Gates mungkin cerdas dalam komputer & teknologi, tapi tidak yakin dia bisa kedokteran. Einstein brilian dalam fisika, namun sangsi ji...

Susahnya Baca Buku

Terkadang saya suka sedih kepada diri sendiri. Dalam benak sering timbul pertanyaan2 menusuk. Sudah berapa halaman buku yang kamu baca hari ini? Sudah dapet ilmu baru apa saja? Menjadikan kegiatan ini sebagai kebutuhan susah sekali. Pasti ada hal lain mengganggu, apalagi kalau baca buku lama-lama justru timbul rasa kantuk (ini sih emang gara-gara dasar saya yg ngantukan :v). Masyarakat Indonesia pada umumnya yang saya lihat juga begitu, susah sekali mendapati tingkat minat baca yang tinggi. Bahkan dengar-dengar kabarnya negara kita tercinta menduduki peringkat dua terbawah. Ngeri banget ya!! (Semoga saja kabar itu tidak benar). Lalu bagaimana cara melihatnya? Sederhana saja. Silahkan pergi ke tempat-tempat yang banyak bulenya (bandara internasional, destinasi internasional,. Jangan pantai atau diskotik ya! Takut salah niat..hehe). Lihat apa yang mereka lakukan saat senggang. Kalau sepenglihatan saya, mereka pasti menenteng buku dan tentu saja membacanya. Nah, hal kecil itu bisa jadi ...