Langsung ke konten utama

Postingan

Melawan Kemustahilan II : Malam Penuh Keajaiban

Dua minggu sebelum acara dimulai, sekaligus juga hari-hari paling genting untuk menyiapkan segalanya. Banyak yang bertanya. Acara jadi tidak? Kok nggak pernah ada progress? Kok dana segini gini aja? Dan nada-nada sumbang lainnya bermunculan. Tidak kaget karena memang begitulah faktanya. Belum ada perkembangan yang signifikan. Dana walaupun sudah berada di angka satu jutaan tetap saja masih jauh dari kata cukup. Artis juga tidak ada progress berarti. Rata-rata tidak memberikan respon, ada juga yang belum menerima job di luar kota. Atau lagi-lagi memberikan informasi biaya yang begitu menyakitkan mata. Mahal sekali fee nya. Di ambang rasa inferior yang semakin meninggi, saya bertemu dengan beberapa orang pada satu malam beberapa hari menjelang hari h. Berbagi keluhan. Saat itu memang butuh untuk saling mendengarkan, sekaligus juga saling menguatkan. Saya menceritakan semua hal yang saya rasakan selama mencari artis. Sekaligus menyatakan batas kemampuan saya. Saya menyerah, tidak tah...

Melawan Kemustahilan I : Artis Tak Dibayar

Kendala yang dialami di seluruh kegiatan yang akan dilakukan hampir sama. Dana. Tanpa adanya finansial yang kuat maka sebagus apapun konsep yang dibuat jadinya percuma. Sebaliknya, jika dana mencukupi atau bahkan berlebih semuanya akan dapat terkontrol dengan baik. Mengawali diri untuk masuk ke dalam suatu kegiatan tanpa sepeserpun uang sudah biasa. Apalagi di sumbawa. Tidak mudah mendapatkan sponsor di kota kecil seperti ini. Bukannya pelit atau miskin, rata-rata kantor di sini adalah cabang yang pusatnya berada jauh di ibukota provinsi sana. Prosedurnya tentu berliku dan butuh waktu yang cukup lama juga. Di tengah skripsi yang belum kunjung usai saya nekat mengikuti kepanitiaan di satu kegiatan yang skalanya cukup besar. Sumbawa Hijab Festival. Awalnya saya ragu, tapi entah kenapa keinginan dari hati begitu kuat mendesak. "Kamu jarang lho bantu-bantu acara dakwah di sini. Kalau bukan sekarang, kapan lagi? Tahun depan udah pergi, kan?" Begitu bisikan-bisikin yang pada...

Redupnya Kekuatan Sendiri

Keinginan yang terus bertumbuh menjadikan seorang manusia tidak akan pernah puas dalam menilai dirinya. Selalu ada hal-hal baru, ekspektasi-ekspektasi baru yang datang menghampirinya apabila sudah usai pencapaian sebelumnya. Dunia ekstrovert memang begitu melelahkan, tidak memberi kesempatan sedikitpun kepada para pendiam untuk sejenak berkontemplasi dengan dirinya sendiri. Ekstroversi berhimpun dalam satuan bernama pendaftaran kepanitiaan, keikutsertaan organisasi, persepsi positif lingkungan, dan syarat menjadi pemimpin. Tidak aneh jika di dunia ini kehilangan sosok-sosok hebat seperti Albert Einsten, Steve Jobs, Wozniacki, J.K. Rowling dan pemikir sekaligus inisiator lainnya. Jika yang hebat dulu bisa timbul, kenapa ketika kemajuan teknologi berangsur maju, justru tidak ada seorang pun yang muncul? Lubang yang digali oleh estroversi terlalu besar.Tidak hanya memberi kesempatan untuk terjatuh, tapi lubangnya juga terisi oleh lumpur sehingga akan menjebak siapapun yang sudah masuk...

Hilang Timbul

Keinginan yang sudah lama kembali muncul ke permukaan. Setelah sekian waktu tenggelam di air dalam, malam ini lagi-lagi setengah badannya terlihat timbul. Sudah begitu lama pengen study aboard, melanjutkan ke luar negeri. Mimpi dari masa SMA. Seru pasti melihat dunia yang lebih luas, menemukan orang-orang baru, memegang dingin putihnya salju, atau menyaksikan daun yang berguguran di musim kemarau. Menonton film atau membaca novel sudah cukup menjadi obat rindu. Gambaran tentang rapihnya tata kota, majunya teknologi, intelektualitas orang-orangnya. Wah, bakal menjadi pengalaman tak terlupakan sepanjang hidup. Di tengah jalan keinginan itu sempat padam. Tidak ramahnya mereka, mahalnya biaya hidup, tidak nyambungnya dengan kebutuhan masyarakat Indonesia (jadi gak bakal guna ilmunya) membuat saya berpikir ulang. Menguburkan pelan-pelan mimpi lama itu. Malam itu, saya nggak sengaja bertemu kawan SMA yang kuliah di Jerman. Kami bermain game yang sedang viral saat ini, PUBG. Banyak...

Wisata Malam Di Dolly

Surabaya (20.17 WIB ) Matahari belum sepenuhnya tenggelam ketika tulisan besar 'SURABAYA' terlihat megah melatar belakangi mall besar di kota pahlawan. Finally , setelah 10 jam melalui 3 provinsi dan pantat yang hampir mata rasa sampailah di ibukota penuh sejarah ini. Surabaya selalu menggambarkan diri sebagai sosok yang angkuh di daratan. Memakan habis kota-kota kecil di sudut-sudutnya. Bukan karena sombong, tapi memang predikat itu layak disematkan kepada metropolitan yang punya aspal lebar, trotoar sepanjang jalan, dan gedung pencakar memenuhi langit-langit.  Sungguh, susah ditemukan tandingannya. Mungkin Kota Apel sudah mendekati, tapi perlu 2 jam menuju ke sana, jadi tidak masuk ke dalam hitungan. Mustahil pergi ke kota ini tanpa kenalan. Bisa-bisa jadi gelandangan yang terjebak di warung dengan harga tinggi. Maka saya sudah mempersiapkan itu semua. Berbekal sedikit relasi saya menghubungi kenalan lama. Bukan teman ya, masih dianggapnya kenalan karena baru sekali kami...

Melawan Hujan

Bantul (05.18 WIB) Air yang jatuh dari langit perlahan mengendurkan intensitasnya. Jika saat ini langit tersibak cahaya, mungkin akan terlihat awan hitam yang menggumpal. Sayangnya hari masih begitu pagi untuk itu. Ini adalah hari bersejarah buat saya. Saya untuk pertama kalinya akan melakukan solo riding terjauh yang pernah saya lakukan. Seorang diri (dan bersama motor tentunya) menyebrangi puluhan kecamatan, belasan kabupaten, dan dua-tiga pulau. Sebenenarnya saya sudah sedari dulu memimpikan perjalanan ini. Tapi sekarang baru terealisasi. Saya sungguh excited sekali! Tidak sabar segera melanjutkan perjalanan. Mungkin benar kata orang. Lingkungan dapat merubah sempurna persepsi kita. Sebagian teman dan keluarga saya terkaget-kaget, setengah tidak percaya. "Hah? Serius? Jauhh sekali.." "Yang bener kamu? Itu gak gampang lho, apalagi lagi musim hujan sekarang.." Dan masih banyak yang lain. Namun keraguan saya cepat hilang. Kenapa? Karena itu bukanlah sesuatu y...

Sebuah Permulaan Yang Berakhir

Tulisan ini mungkin sedikit bernuansa ' curhat' . Tapi sebenarnya tidak , saya hanya ingin berbagi pengalaman yang kiranya dapat berguna buat diri saya sendiri maupun pembaca sekalian . Sekalgius juga buat penyemangat . Bahwa saya , dan apa yang sedang saya perjuangkan sekarang , masih belum selesai . Cerita ini bermula dari awal masuk kuliah. Seperti mahasiswa baru pada umumnya. Mereka pasti akan memilih banyak organisasi untuk diikuti. Tertarik, ikut. Diajak teman, ikut. Lihat pamflet keren, ikut. Saya pun jadi salah satu yang melakukan itu. Sekitar lima organisasi saya ikuti. Tentu saja, pilihan yang saya ambil sesuai hati nurani dan keinginan. Saya dari dulu nggak pernah suka dengan pemaksaan. Perjalanan setelah itu aman-aman saja. Saya ikut kegiatan, berkenalan dengan teman-teman lintas jurusan, jadi panitia sebuah acara, dan lain sebagainya. Saya antusias sekali. Banyak hal baru yang saya dapatkan & tidak didapatkan saat SMA dulu. Karen...